Tampilkan postingan dengan label Oleh - oleh Ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oleh - oleh Ngaji. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Puding Semangka ala Retno Anggraini :P




Yuhuuuuuuu ini dia Puding Tralala trilili yang aku bikin dengan amat sangat sukses diwaktu libur lalu....Puding semangka......
Bahan:
* 500 ml susu segar
* 150 gr gula pasir
* 2 bks agar-agar bubuk putih
* 1/2 sdt garam
* 2 btr kuning telur
* 2 btr putih telur
* 1 sdm kismis, potong kecil
* Pewarna merah, kuning dan hijau secukupnya
Cara Membuat :
> Kocok kuning telur dengan garpu, sisihkan.
> Masak susu, agar-agar, gula dan garam hingga mendidih. Ambil 2 sendok sayur, tuang kedalam kuning telur, aduk rata, tuang adonan ini kedalam agar-agar. Didihkan sekali lagi. Angkat.
> Kocok putih telur hingga kaku, tuangi agar-agar panas sedikit demi sedikit sambil terus dikocok dengan kecepatan rendah, sampai agar-agar habis.
> Adonan dibagi 2, satu bagian diberi warna merah dan potongan kismis. Tuang kedalam loyang segitiga.
> Satu bagian lagi, dibagi 2. satu diberi warna kuning, satu lagi diberi warna hijau. Tuang warna kuning diatas agar-agar merah, biarkan setengah beku sebentar, tuangi agar-agar hijau. Bekukan.
> Lepaskan dari loyang, potong-potong. Sajikan.

Rabu, 25 Juli 2012

Nasihat Buat Adik Perempuanku....

banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum ,

karna banyaknya madu yang dimiliki bunga ,

tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karna sedikitnya madu…


banyak pria yg tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik, karna memiliki hati yg cantik ..

dan tidak sedikit pula wanita cantik di tinggalkan laki-laki karna hitamnya hati..

karna sejatinya kecantikan adalah jernihnya hati ..

maka percantiklah hatimu,

agar ddl clntai dan dirindukan setiap umat .. ^-^

wanita,

pada setiap mata lelaki ada srigala.

pada setiap mata wanita terdapat sihir yang mampu membuat laki-laki menjadi srigala..

maka wanita, jaga dirimu..

dan lelaki, jaga srigalamu..

kesabaran itu kadang terasa pahit, mengapa /

karna surga itu manis ..

selamatkan hatimu,

maka engkau menyelamatkan segalanya..

abdul bin amr,

rasulluloh bersabda..

dunia ini sesungguhnya merupakan kesenangan ,

dan kesenangan dunia yang terbaik adalah wanita yang shaleha.. (H.R ibnu majah)

Rabu, 04 Juli 2012

Kamu Diem aja ini urusanku sama Tuhanku

2008 aku masuk di salah satu Universitas Negeri di Indonesia, yang biasa disebut sebagai Universitas Negeri Surabaya. Merupakan langkah awal bagiku untuk menjadikan semua impian dan cita- cita menjadi suatu yang dapat kuraih. Yak Universitas ini merupakan kampus yang didalamnya terdapat orang- orang cerdas yang merupakan seseorang yang berprestasi di kampungnya. UNESA menjaring mahasiswa dari seluruh Indonesia. Jadi sudah tidak asing lagi bila teman-teman yang kita dapat di kampus berasal dari daerah yang ada bahkan sampai daerah paling timur di Indonesia.

Masuk pertama UNESA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ELEKTRO PRODI INFORMATIKA adalah dengan program PMDK dan tinggal di THE KOST SEMI ASRAMA, biasanya disana sering terjadi transfer- transfer kebaikan dari kakak yang dinamakan senior residence untuk kami para mahasiswa baru. Aku adalah anak yang bisa dibilang cukup gaul waktu SMA heheee, dan di Nganjuk SMAku yang memakai Jilbab bisa di itung dengan jari, namun bila di UNESA yang tidak memakai jilbab malah yang bisa di itung dengan jari, wahahah it was so different.

Pada masa awal PKKMB(Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) aku memang belum memakai jilbab, yak amat terasa asing sekali memang kala itu karena sangat terasa janggal buat mahasiswa UNESA yang memang kebanyakan mayoritasnya muslim yang kuat. Pengaruh lingkingan mungkin, dan juga kadar hati saat itu sedang baik- baiknya, aku memutuskan memakai jilbab di pertengahan menjelang akhir tahun 2008. Jadi awal masuk semester pertama aku “BARU” memakai jilbab. Tentunya manfaat jilbab banyak sekali, selain bisa melindungi kita dari kejahatan laki- laki jahanam, manfaat jilbab juga sebagai pelindung dan membedakan laki- laki dan perempuan.

Aku memakai jilbab, bisa dibilang jilbab gaul, karena tidak panjang- panjang sampai ke bonong, dan juga tidak menutup dada, hehee. Yah aku sering melilitkan jilbab ke leher sih, karena itu merupakan cara yang paling simple dan gak ribet menurutku. Aku juga tidak suka, tidak nyaman dan tidak mau untuk memakai rok ala muslimah- muslimah sejati. Menurutku memakai pakaian itu sangat didasarkan atas syariat (menutup aurat) dan “KENYAMANAN” Seseorang. Jadi tidak boleh dipaksakan dan tidak boleh diperintah.

Ketika itu, banyak sih Akhwat- Akhwat yang berpandangan sinis, terhadap caraku berpakaian. Entah apa mereka kadang suka mengomentari, berbisik bahkan sedikit menggunjing. (Ini contoh sedikit akhwat jahat yang pernah kutemui). Dan aku menganggap kadar keimanan seseorang itu bukan dilihat dari panjang- panjangan jilbabnya, melainkan dari hatinya. Toh aku juga punya kok teman yah, yang lemayan cukup dekat di asrama, yang sikapnya tidak mencerminkan panjang jilbabnya. Memang kita tidak boleh menjudge seseorang berdasarkan tampilan luarnya, karena mereka juga manusia, namun tidak jarang loh mereka juga suka “usil” mengomentari cara orang lain berpakaian.

Sebut saja namanya A dia ini teman sekelasku diKampus. Waktu itu dia memakai jilbab yang menurutku jilbab gaul, namun seiring dengan berjalannya waktu, si A ini menjadi Akhwat dadakan. Entah itu hal yang mungkin ia rasakan dan ia berusaha menjadi lebih baik. Namun perubahan dari tampilannya tidak berkolerasi positif dengan apa sifatnya. Dia masih saja ngomongnya ketus, jahat suka mengina, menghardik, dan mengadu domba orang. Sehingga banyak sekali yang bersetereotipe terhadap jilbab panjang. Bahkan dia tidak segan mempermalukan aku waktu di jalan, dia bilang jilbabku transparan lah, baju kependekanlah sampai hal- hal yang menurutku privasi namun tak luput dari perhatiannya sehingga dia selalu berkomentar.

Nah, aku sebel banget deh sama dia, hingga suatu saat aku beretemu kembali dengannya tepatnya di semester 6, dia sudah berubah menjadi jilbab gaul lagi, dengan jeans ketat dan baju yang seperti jilbab gaul biasanya. Lalu aku bertanya ada apa dengan perubahannya, dia bilang ,mendapat tausiyah di Pengajia dari Ustadz dan unstadz tersebut menuturkan bahwa JILBAB panjang bukan merupakan hal yang diwajibkan namun disarankan, entah kenapa si A tersebut kemudian beralih ke jilbab pendek. Aku pun mengucap dalam hati “bilang aja karena kamu belum siap, enggak usah deh sok- sokan bawa- bawa ustadz kalo kamu belum siap” kataku dalam hati.

Ada beberapa hal yang menurutku dibawa beberapa golongan tertentu yang membawa nama agama kami, yakni:
Boleh ngebom karena ini perang di jalan Allah

Aku memang bukan orang yang terlalu taat dalam agama, namun menurutku tuhanku dan nabiku Muhammad SAW, tidak pernah mengajarkan hal yang seperti ini, bahkan nabiku sangat toleransi terhadap umat lain agama, bukan dengan cara menyakiti, ngebom, menghina, mendeskriditkan dll
Wanita tidak boleh jadi pemimpin, tidak boleh kerja dan tidak boleh speak up

Ini, hal yang aneh menurutku, karena pada zaman dahulupun istri- istri nabi banyak juga yang menjadi pemimpin. Aku memang tidak tahu detail ceritanya namun aku pernah mendengarnya di dongeng- dongeng tentang nabi, Tidak boleh bekerja? Dari mana hal tersebut bisa diterima dalam logika. Wanita bekerja itu tidak dipermasalahkan dalam agama, asal mendapat izin dari suaminya, dan hanya suami- suami yang berpikiran sempitlah yang membuat wanita terkungkung didapur, tidak punya masa depan dan hanya memakai daster butut, speak up? Mengeluarkan pendapat menurutku ini adalah hal yang sangat lazim, jadi tidak ada yang boleh melarang.
Harus memusuhi orang selain islam

Ini, menurutku hal yang paling konyol, dalam kehidupan “HARUS MEMUSUHI” memusuhi siapa? Bahkan nabi puntidak pernah mengajarkan seperti itu, paman nabi yang sangat dekat dengannya dan orang yang sangat menyayangi nabi juga merupaka orang non muslim, apakah nabi memusihinya, membunuhnya, jelas nabi tidak pernah memusuhi orang yang berbeda agama, nabi itu sangat toleran, bukan yang saat ini sering disebutkan oleh orang- orang yang selalu salah mencari tau dan menjadi “sok tau” sehingga sering menafikan arti-arti di dalam al qur’an dan al hadist.


Poligami

Tentu poligami, diperbolehkan didalam islam, namun ada satu catatan “bila kamu tidak bisa berbuat adil maka satu saja” menurutku yang bisa adil adalah nabi, dan nabi menikahkan wanita lain bukan karena “NAFSU” seperti laki- laki jahat yang sering seliweran kasusnya di TV, namun karena rasa prihatin dan ingin melindungi terhadap janda, wanita tua dan wanita yang tidak memiliki perlindungan, jadi

Jadi disini, orang yang selalu mementingkan nama kelompok dengan membawa nama agamaku, merupakan orang yang salah menurutku, karena mereka mencari tau hal yang mereka tidak tau dan seakan jadi sok tau, karena menurutku nabiku Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan hal- hal yang mendeskriditkan umat agama lain, tidak pernah mendeskriditkan wanita dan tidak pernah mengajarkan untuk membunuh dan menyakiti orang lain. Lebih baik menjalankan islam dengan solat 5 waktu, puasa, berbuat baik terhadap sesama, tunduk kepada Allah SWT, menjalankan syariat dan nilai –nilai agama serta tidak membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada sehingga cenderung mengada- ngada. Karena yang berhak menjudge aku adalah Tuhanku Allah SWT, bukan LOE.......

Kamis, 28 Juni 2012

Cita-cita = hidup foya-foya mati masuk surga


Sewaktu sekolah di SMP dulu, seorang sahabat saya bernama Suyanto ditanya oleh seorang guru, “Apa cita-cita kamu nanti?” 

Dengan santai dia menjawab, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga.” ...Gggrrrrr…suasana kelas pun bergemuruh. Sang guru pun marah karena merasa diolok-olok.
Cita-cita, tujuan, dan keinginan. Sewaktu kecil memang seringkali guru, orang tua dan teman-temannya bertanya tentang cita-cita, dan kita pun dilatih dengan menjawab cita-cita sebagai tujuan akhir dengan jawaban profesi pekerjaan, seperti menjadi pilot, dokter, tentara dan sebagainya. Seakan-akan jika kita menjawab selain dari itu adalah jawaban yang salah.


Menurut kamus besar bahasa Indonesia tujuan adalah alamat, arah, haluan, jurusan, maksud, sasaran, kehendak, keinginan. Dan keinginan sendiri adalah kehendak, maksud, atau tujuan.

Sebenarnya yang terjadi pada kita, manusia dalam konteks keinginan atau tujuan, kita senantiasa dihantarkan oleh waktu untuk selalu menuju tujuan kita dari bangun tidur, melakukan keseharian kita sampai tidur dan kembali bangun; dari detik ke detik, dari jam ke jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun….kita senantiasa diantarkan oleh waktu dari satu tujuan ke tujuan yang lain, dari satu keinginan ke keinginan yang lain, dan seterusnya sampai tujuan dimasa mendatang.

Mari kita tafakuri sejenak apa tujuan kita besok?

Apa tujuan kita esok lusa, atau minggu depan, atau bulan depan, atau bahkan tahun depan. Mari kita perhatikan di sekeliling kita. Orang-orang atau manusia-manusia yang tujuannya besok mungkin sekedar bangun lebih pagi, ada yang berencana sport, shopping & hang out besok, ada yang minggu depan berencana reunian dengan teman lama, ya kangen-kangenan, ada juga yang bulan depan sedang berencana menikah, atau ada juga dari mereka yang bulan depan akan promosi naik jabatan, dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita, manusia.

Manusia dan tujuannya dalam kehidupan ini. Hanya saja semua tujuan-tujuan itu dari mulai rentan waktu yang pendek hingga yang panjang, dari mulai esok hari sampai minggu depan, bahkan bulan, bahkan tahun dan bertahun-tahun lagi……semuanya tidaklah pasti. Tidaklah pasti, kecuali Allah memberikan izin kepada dirinya, kita, manusia untuk mencapai tujuan tersebut, atau keinginan tersebut.

Makna dari kata Insya Allah

Insya Allah adalah kata yang sering kita ucapkan jika kita akan melakukan sesuatu apapun nanti, atau jika kita akan mengerjakan sebuah pekerjaan dimasa mendatang, baik itu dihitung dari mulai hitungan detik, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun.

Karena apapun yang akan dilakukan oleh manusia dimasa mendatang haruslah atas seizin Allah, tetapi makna dari kata Insya Allah inilah yang sering kita lupakan. Terkadang malah jika kita jawab Insya Allah teman kita malah berucap, ”Aduh jangan Insya Allah dong, pastiin….jadi apa nggak,”

Seakan-akan kata Insya Allah bermakna, “Ngak janji deh...” Atau kalo sempet ya... atau perkataan semacamnya. Inilah yang seringkali terjadi dan kata Insya Allah dimaknai lain.

Padahal, setidaknya ada dua makna dari ucapan kata Insya Allah yang atinya jika Allah mengizinkan. Pertama apakah Allah mengizinkan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua apakah Allah masih memberikan waktu atau masa, sehingga umur kita masih bisa mencapai tujuan tersebut.

Terkadang manusia atau kita hanya terfokus pada tujuan-tujuan atau keinginan-keinginan yang belum pasti. Keinginan dan tujuan yang belum tentulah Allah akan mengizinkan kita untuk mencapai tujuan tersebut, dan melupakan tujuan yang pasti, tujuan yang hakiki, yaitu bertemu dengan Allah Rabb semesta alam, melalui pintu kematian.

Sahabat, begitulah skenario Allah. Dan ketika bahasan telah sampai di sini seringkali keinginan kita atau tujuan kita bertolak belakang dengan skenario Allah, yang menetapkan tujuan hakiki manusia adalah kembali kepada Allah, Tuhan Rabb semesta alam melewati pintu kematian. Allah telah berfirman dalam Alquran:

“Wahai Manusia, sesungguhnya engkau giat menuju TuhanMU dengan penuh kesungguhan, maka pasti engkau akan menemuiNYA.” (QS. Al Insyiqoq : 6)

Ayat yang baru saja kita simak menyeru kepada kita, Manusia bahwa secara sadar maupun tidak, mau ataupun tidak, manusia diantarkan oleh waktu atau masa sampai pada satu tujuan yaitu bertemu dengan Allah Rabb semesta alam. Hanya saja kebanyakan dari kita, manusia sering tidak menyadari akan hal itu.

Ya, seringkali kita lupa di dalam keseharian kita. Kita pikir yang pasti besok adalah tujuan-tujuan kita seperti sport, shopping, atau reuni, promosi naik jabatan, menikah, bercengkrama dengan anak dan keluarga dan sebagainya padahal itu semua tidaklah pasti, karena yang pasti kita sedang berjalan menuju Allah, lewat pintu kematian.

Malaikat maut mendatangi kita lima kali dalam sehari

Padahal tahukah sahabat, bahwa sesungguhnya malaikat maut itu mendatangi kita sehari lima kali. Ya, disebutkan dalam sebuah hadis lima kali dalam sehari dan dalam hadis lain 70 kali sehari. seakan-akan malaikat itu terus dengan teliti mengawasi kita, apakah sudah saatnya kita pada waktu yang telah ditetapkan, atau dengan kata lain sudah sampaikah kita pada jadwal ajal yang telah ditetapkan. Wallahu ‘alam bish shawwab.

Tidaklah ada satupun manusia yang akan tahu kapan ajal itu akan datang menjemputnya. Tetapi yang mengherankan adalah mengapa kebanyakan dari kita, manusia tidak mempersiapkan bekal untuk sesuatu yang pasti, yang pasti kita datangi yaitu kehidupan setelah kematian. Dan itulah tujuan, tujuan hakiki dari kehidupan kita.


Kuncinya adalah menselaraskan keinginan dan tujuan, sesuai dengan yang diridhai Allah SWT.

Kunci dari pemahaman tentang keinginan yang telah kita bahas, adalah menyelaraskan keinginan dan tujuan sehari-hari kita dengan tujuan kehidupan akhirat kelak. Bila kita tafakuri, waktu yang telah kita lalui tidaklah mungkin kembali, hari demi hari, minggu, bulan dan tahun, hidup kita ini adalah sebuah perjalanan, yang kita sedang mengarunginya hari demi hari sampai nanti ajal menjemput kita.

Oleh karena itu, di dalam perjalanan ini hendaklah kita semua, mengambil jalan yang “selamat”. Selamat bukan hanya untuk perjalanan di dunia ini sahabat, tetapi selamat di dunia sekaligus untuk bekal keselamatan di akhirat nanti. Jalan yang selamat, itulah kenapa islam mempunyai arti , salah satunya adalah selamat. Selain arti yang lain adalah berserah diri, berserah diri kepada ketentuan Allah SWT.

Jalan selamat perlulah cara, aturan dan jalan yang benar

Dan untuk mengambil jalan yang selamat perlulah pedoman cara dan aturan yang benar, cara yang telah dicontohkan oleh Rasullullah SAW, dan dengan aturan yang haq atau yang sebenar-benarnya yaitu aturan Alquran dan Sunnah. Itulah jalan yang selamat.

Mari kita tafakuri. Sementara tujuan esok kita sekedar jogging saja telah kita persiapkan, tujuan esok kita akan reuni, atau sekedar kongkow-pun telah kita persiapkan, apalagi di minggu depan misalkan promosi naik jabatan pastilah telah kita persiapkan, tetapi banyak dari kita yang lupa akan persiapan skenario Allah tentang tujuan kita kembali kepada Allah lewat pintu kematian, apa bekal kita untuk kehidupan akhirat kelak, amalan apa yang akan kita bawa?

Mari kita niatkan perubahan, mari berhijrah dari yang kurang baik menuju yang baik, dan dari yang baik menuju yang lebih baik lagi, mari kita niatkan agar hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini, mari bersama-sama, selama kita masih berkesempatan, selama kita masih diberi kesempatan, selama nafas masih berhembus. Mari! Insya Allah, Aamiin.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Rabu, 27 Juni 2012

Mati syahid, penuntut ilmu agama, dermawan tapi masuk neraka


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” 



TAKHRIJ HADITS 
Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya' was Sum'ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari', Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).



Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh adz Dzahabi (I/418-419), Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad, no. 8260 dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam Shahih at Targhib wat Tarhib (I/114 no. 22) serta dalam Shahih An Nasa-i (II/658 no. 2940).



Hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az Zuhud, bab Ma Ja'a fir Riya' was Sum'ah , no. 2382; Tuhfatul Ahwadzi (VII/54 no. 2489); Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, no. 2482 dan Ibnu Hibban no. 2502 -Mawariduzh Zham'an- dan al Hakim (I/418-419).



Para perawi hadits ini tsiqah (terpercaya), kecuali Al Walid bin Abil Walid Abu Utsman. Dikatakan oleh al Hafizh, bahwa dia layyinul hadits (lemah haditsnya) dalam Taqribut Tahdzib 2/290 tahqiq Musthafa Abdul Qadir 'Atha'. Perkataan ini keliru, karena Al Walid bin Abdil Walid termasuk perawi Imam Muslim dan dikatakan tsiqah oleh Abu Zur'ah Ar Razi. (Lihat Al Jarhu wat Ta'dil oleh Abu Hatim Ar Razi, juz IX hlm. 19-20).



At Tirmidzi berkata mengenai hadits ini : “Hasan gharib”. Sedangkan Imam al Hakim berkata : “Shahihul isnad” dan disetujui oleh Imam adz Dzahabi dalam Mustadrak al Hakim (I/419). Lihat ta'liq Shahih Ibnu Khuzaimah (IV/115). 



Tatkala Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu mendengar hadits ini, beliau berkata: “Hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dengan orang-orang yang akan datang?” Kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya seraya berkata : Benarlah Allah dan RasulNya, Allah berfirman : 



"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan". [Hud : 15-16]. [HR Tirmidzi no. 2382 dan Ibnu Khuzaimah no. 2482]. 



PENJELASAN HADITS 
Nilai amal di sisi Allah diukur dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah n , bukan dengan banyak dan besarnya. Allah berfirman :



"Katakanlah : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Allah yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya". [al Kahfi : 110].



Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Inilah dua landasan amal yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam”.[1]



Hadits di atas menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Allah l . Mereka membawa amal yang besar, tetapi mereka melakukannya karena riya', ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Pelaku riya' , pada hari yang dibuka dan disibak semua hati, wajahnya diseret secara tertelungkup sampai masuk ke dalam neraka. Nas-alullaha as-Salaamah wal ‘Afiyah. Tiga golongan tersebut ialah:



Golongan Pertama : Yaitu kaum yang dianugerahi Allah kesehatan dan kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya untuk Allah dan di jalan Allah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya. Tetapi sayang, setan telah menjadikan mereka mencurahkannya di luar jalan ini. Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, tetapi tujuan mereka supaya disebut pemberani. Kepada merekalah Allah mengawali pengadilanNya pada hari Kiamat. Lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmatNya yang telah dianugerahkan kepada mereka, seraya bertanya : “Apa yang kamu kerjakan dengan nikat-nikmat itu?” Pada saat itulah Allah membuka rahasia hati mereka seraya berfirman : “Kamu pendusta! Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani (pahlawan).” Mereka tidak mampu membantah, karena memang demikianlah kenyataannya. Malaikat pun diperintahkan menarik wajahnya dan melemparkan ke dalam api neraka.



Golongan Kedua : Yaitu kaum yang dimuliakan Allah dengan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Mereka mampu membaca al Qur`an dan mempelajarinya. Seharusnya, dengan ilmu tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa syukur kepadaNya atas limpahan rahmatNya. Tetapi sayang, tujuan yang semestinya karena Allah, telah dipalingkan dan dihiasi oleh setan, sehingga mereka berbuat riya' (pamer) dengan ilmu itu di hadapan manusia, agar mendapat pujian, kedudukan, harta dan jabatan. Mereka tidak menyadari, bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Allah mengetahui rahasia yang tersembunyi di hati mereka. Ternyata, mereka belajar, mengajar dan membaca al Qur`an supaya dikatakan sebagai seorang alim, pintar atau yang semisal itu. Sedangkan yang membaca al Qur`an supaya dikatakan qari' atau qari’ah, orang yang bagus dan indah bacaannya. Maka pada hari Kiamat nanti, tidak ada yang mereka peroleh kecuali dikatakan “pendusta”. Mereka hanya terdiam disertai kehinaan, kerugian dan penuh penyesalan. Kemudian Allah menyuruh malaikat agar menyeret dan mencampakkan mereka ke dalam neraka. Wal 'iyadzu billah.



Golongan Ketiga : Yaitu kaum yang diberi kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Mereka adalah golongan yang mampu, kaya dan berduit. Kewajiban mereka semestinya bersyukur kepada Allah dengan ikhlas karena Allah semata. Tetapi sayang, mereka shadaqah, infaq, memberikan uang dan mendermakan harta supaya menjadi terkenal dan dikatakan dermawan, karim (yang mulia hatinya), supaya dikatakan orang yang khair (baik). Padahal apa yang mereka katakan di hadapan Allah, bahwa mereka berinfaq, bershadaqah karena Allah adalah dusta belaka. Sungguh telah dikatakan yang demikian itu, dan mereka tidak bisa membantah. Allah mengetahui hati dan tujuan mereka. Kemudian mereka diperintahkan untuk diseret atas mukanya dan dicampakkan ke dalam neraka, dan mereka tidak mendapatkan seorang penolong pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. [2]



Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang orang yang berperang, orang alim dan dermawan serta siksa Allah atas mereka, ialah karena mereka mengerjakan demikian untuk selain Allah. Dan dimasukkan mereka ke dalam neraka menunjukkan betapa haramnya riya' dan keras siksaannya, serta diwajibkannya ikhlas dalam seluruh amal. Allah berfirman :

"Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" [al Bayyinah : 5]



Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan jihad, sesungguhnya diperuntukkan bagi orang yang melaksanakannya karena Allah dengan ikhlas. Demikian pula pujian terhadap ulama dan orang yang berinfaq di segala sektor kebaikan, semua itu terjadi dengan syarat apabila mereka melakukan yang demikian itu semata-mata karena Allah Ta'ala.[3]



Demikian mengerikan siksa dan ancaman bagi orang yang berbuat riya' dalam melakukan kebaikan. Mereka berbuat dengan tujuan mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amal daripada amal itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapat perhatian.



Secara fitrah sudah diketahui, bahwa penipuan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina dan dosa yang jelek. Jika penipuan itu dilakukan seorang makhluk terhadap khaliq (pencipta)nya, maka perbuatan itu lebih sangat hina, buruk dan tercela. Perbuatan itu merupakan perbuatan orang yang suka berpura-pura dan berbuat untuk menarik perhatian manusia. Ia memperlihatkan di hadapan mereka seakan-akan dia hanya menghendaki Allah semata. Padahal ia adalah seorang penipu dan pendusta, maka tidak heran jika Allah menghinakannya dengan dimasukkan ke dalam api neraka.



Dalam tulisan ini akan dibahas tentang definisi riya', sebab-sebabnya, macamnya, bahayanya dan beberapa hal yang tidak termasuk riya' serta obat penyakit riya'. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca sekalian.



DEFINISI RIYA'
Secara lughah (bahasa), riya' الرِّيَاءُ adalah mashdar dari kata : رَاءَى – يُرَاءِى – رِءَاءً وَ رِيَاءًا (رَاءَاهُ ) مُرَاءَاةً



Perkataan :
أَرَاهُ أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْخَيْرِ وَ الصَّلاَحِ عَلَى خِلاَفِ مَا هُوَ عَلَيْهِ



Berarti : “Ia memperlihatkan bahwasanya ia orang baik, padahal hatinya tidak demikian. Artinya, apa yang nampak berbeda dengan apa yang sebenarnya ada padanya”.[4]



Sedangkan secara istilah syar'i, para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi riya'. Tetapi intinya sama, yaitu 



أَنْ يَقُوْمَ الْعَبْدُ بِالْعِبَادَةِ الَّتِيْ يَتَقَرَّبُ بِهَا لِلَّهِ لاَ يُرِيْدُ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ بَلْ يُرِيْدُ عَرْضاً دُنْيَوِياًّ



"Seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia melakukan bukan karena Allah melainkan karena tujuan dunia".[5] 



Al Qurthubi mengatakan :



حَقِيْقَةُ الرِّيَاءِ طَلَبُ مَا فِيْ الدُّنْيَا بِالْعِبَادَةِ ، وَ أَصْلُهُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِيْ قُلُوْبِ النَّاسِ



(Hakikat riya' adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan pada asalnya adalah mencari posisi tempat di hati manusia).[6]



Jadi riya' adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.[7] 



PERBEDAAN RIYA' DAN SUM'AH 
Imam Bukhari di dalam Shahih-nya membuat bab Ar Riya' was Sum'ah dengan membawakan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:



مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ . وَمَنْ يُرَائِيْ يُرَائِي اللهُ بِهِ



"Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barangsiapa beramal karena riya', maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)". [HR Bukhari no. 6499 dan Muslim no. 2987 dari sahabat Jundub bin Abdillah]. 



Perbedaan riya' dan sum'ah ialah, riya' berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan sum'ah ialah, beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya' berkaitan dengan indera mata, sedangkan sum'ah berkaitan dengan indera telinga.[8] 



PERBEDAAN ANTARA RIYA' DAN 'UJUB
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) mengatakan : “Seringkali orang menghubungkan antara riya' dan 'ujub. Padahal riya' merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan 'ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu”.[9]



Imam Nawawi rahimahullah (wafat th. 676 H) berkata : “Ketahuilah, bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit 'ujub. Barangsiapa berlaku 'ujub (mengagumi) amalnya sendiri, maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong”.[10]



'Ujub, menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. Yaitu seorang bangga dengan dirinya atau pendapatnya. Orang yang berlaku 'ujub adalah orang yang tertipu dengan dirinya, ibadahnya dan ketaatannya. Ia tidak mewujudkan makna إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (hanya kepadaMu ya Allah, kami mohon pertolongan). Sedangkan orang yang berlaku riya' tidak mewujudkan maknaإِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkau ya Allah, kami beribadah).



Apabila seseorang sudah mewujudkan makna ِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ , maka akan hilang darinya penyakit riya' dan 'ujub.[11]



Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : هَوًى مُتَّبَعٌ ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ ، وَ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ



"Tiga perkara yang membinasakan, yaitu hawa nafsu yang dituruti, kebakhilan (kikir) yang ditaati dan kebanggaan seseorang terhadap dirinya". [HR Abu Syaikh dan Thabrani dalam Mu'jam Ausath. Lihat Shahih Jami'ush Shaghiir no. 3039 dan Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 1802]



SEBAB-SEBAB RIYA'
Sebab-sebab yang menjerumuskan manusia ke lembah riya' ada beberapa hal. Pokok pangkal riya' adalah kecintaan kepada pangkat dan kedudukan. Jika hal ini dirinci, maka dapat dikembalikan kepada tiga sebab pokok, yaitu: Pertama. Senang menikmati pujian dan sanjungan. Kedua. Menghindari atau takut celaan manusia. Ketiga. Tamak (sangat menginginkan) terhadap apa yang ada pada orang lain.



Hal ini dipertegas dengan riwayat di dalam ash Shahihain, dari hadits Abu Musa al-'Asyari Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata :



الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُذْكَرَ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ ، فَمَنْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى ، فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ



“Ada seseorang berperang karena rasa fanatisme, berperang dengan gagah berani dan berperang dengan riya'; manakah dari yang demikian itu berada di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, maka itulah fi sabilillah”. [HR Bukhari no. 2810 dan Muslim no. 1904 dan selainnya].



Makna perkataan orang itu “berperang dengan gagah berani”, yaitu agar namanya disebut-sebut dan dipuji. Makna perkataan “berperang dengan fanatisme (golongan)”, yaitu ia tidak mau dikalahkan atau dihina. Makna perkataan “berperang dengan riya'”, yaitu agar kedudukannya diketahui orang lain, dan hal ini merupakan kenikmatan pangkat dan kedudukan di hati manusia.



Boleh jadi seseorang tidak tertarik terhadap pujian, tetapi ia takut terhadap hinaan. Seperti seorang yang penakut di antara para pemberani. Dia berusaha menguatkan hati untuk tidak melarikan diri agar tidak dihina dan dicela. Ada kalanya seseorang memberi fatwa tanpa ilmu karena menghindari celaan supaya tidak dikatakan sebagai orang bodoh. Tiga hal inilah yang menggerakkan riya' dan sebagai penyebabnya.[12]



[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]



Sumber : BAHAYA RIYA'

Selasa, 26 Juni 2012

Hati-hati dengan karomah


“Tidak setiap orang yang memiliki keistemewaan itu sempurna kebersihan batin dan keikhlasannya.”




Saat ini publik ummat sering menilai derajat luhur seseorang dari kehebatan-kehebatan ilmu dan karomahnya. Syeikh Abu Yazid al-Busthamy pernah didatangi muridnya, yang melaporkan karomah dan kehebatan seseorang.


“Dia bisa menyelam di lautan dalam waktu cukup lama…”


“Saya lebih kagum pada paus di lautan…”



“Dia bisa terbang…!” kata muridnya.



“Saya lebih heran, burung kecil terbang seharian…karena kondisinya memang demikian,” jawabnya.



“Lhah, dia ini bisa sekejap ke Mekkah…”



“Saya lebih heran pada Iblis sekejap bisa mengelilingi dunia…Namun dilaknat oleh Allah.”



Suatu ketika orang yang diceritakan itu datang ke masjid, tiba-tiba ia meludah ke arah kiblat.



“Bagaimana ia menjaga adab dengan Allah dalam hakikat, sedangkan adab syariatnya saja tidak dijaga..” kata beliau.



Banyak orang yang mendalami ilmu pentetahuan, mampu membaca dan mengenal dalil, kitab-kitab, bahkan memiliki keistemewaan, tetapi banyak pula diantara mereka tidak bersih hatinya, tidak ikhlas dalam ubudiyahnya.



Begitu pula ketika karomah dan tanda-tanda yang hebat itu disodorkan pada Sahl bin Abdullah at-Tustary, ra, beliau balik bertanya, “Apa itu tanda-tanda? Apa itu karomah? Itu semua akan sirna dengan waktunya. Bagiku orang yang diberi pertolongan Allah swt untuk merubah dari perilakunya yang tercela menjadi perilaku yang terpuji, lebih utama dibanding orang yang punya karomah seperti itu.”



Sebagian Sufi mengatakan, “Yang mengagumkan bukannya orang yang memasukkan tangan ke kantong sakunya, lalu menafkahkan apa saja dari kantong itu. Yang mengagumkan adalah orang yang memasukkan tangannya ke kantong sakunya karena merasa ada sesuatu yang disimpan di sana. Begitu ia masukkan tangannya ke sakunya, sesuatu itu tidak ada, namun dirinya tidak berubah (terkejut) sama sekali.”



Jadi karomah itu sesungguhnya hanyalah cara Allah memberikan pelajaran kepada yang diberi karomah agar perjalanan ruhaninya tidak berhenti, sehingga semakin menajak, semakin naik, bukan untuk menunjukkan keistemewaanya.



Yang istimewaan adalah Istiqomah. Karena itu para Sufi menegaskan, “Jangan mencari karomah, tetapi carilah Istiqomah.” Sebab istiqomah itu lebih hebat dibanding seribu karomah. Dan memang, hakikat karomah adalah Istiqomah itu sendiri.



Bahkan Imam Al-Junayd al-Baghdady pernah mengi-ngatkan, betapa banyak para Wali yang terpleset derajatnya hanya karena karomah.



Syeikh Abdul Jalil Mustaqim pernah mengatakan, ketika anda diludahi seseorang dan anda sama sekali tidak marah, itulah karomah, yang lebih hebat dibanding karomah yang lainnya.



Ketika dalam sebuah perkumpulan Thariqat Sufi, tiba-tiba ada seseorang datang, dan langsung membicarakan kehebatan ilmu ini dan itu, karomah si ini dan si itu. Lalu seseorang diantara mereka menegur,



“Mas, kalau di sini, ilmu-ilmu seperti yang anda sampaikan tadi hanya dinilai sampah. Jadi percuma sampean bicara sampah di sini…”



Ada seseorang disebut-sebut sebagai Wali:



“Wah dia itu wali, bisa baca pikiran orang, dan kejadian-kejadian yang pernah kita lakukan walau pun sudah bertahun-tahun lamanya…”



“Lhah, orang yang punya khadam Jin juga bisa diberi informasi oleh Jinnya tentang kejadian yang lalu maupun yang akan datang… Jadi hati-hati…”



“Beliau itu keturunan seorang Ulama besar..”



“Tidak ada jaminan nasab itu, nasibnya luhur di hadapan Allah…”



Dan panjang sekali kajian soal karomah dan kewalian ini, yang butuh ratusan halaman. Tetapi kesimpulannya, seseorang jangan sampai mengagumi kehebatan lalu mengklaim bahwa kehebatan itu menunjukkan derajat di depan Allah. Tidak tentu sama sekali.

Rabu, 20 Juni 2012

Pribadi yang sabar

Tidaklah suatu kehancuran kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya atau bersabar menahan diri dari ketergesaan. Mengendalikan diri dari sikap berlebihan. Sabar memiliki muatan untuk berpasrah diri kepada Allah menerima keadaan. Sabar mengandung kekuatan jiwa yang luar biasa. Sehingga, ia tidak berkeluh kesah menghadapi berbagai tantangan dan musibah.

Sebagaimana Allah berfirman. “Maka, tolonglah diri kalian dengan sabar dan shalat.
Sesungguhnya hal demikian itu adalah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (illa al-khasyi'in).“ (QS alBaqarah [2]: 45).


Kata khaasi'in (orangorang yang khusyuk), setara dengan keadaan takut, tunduk, dan bergetar jiwanya penuh rasa kecemasan. Sebagaimana dalam surah alGhaasiiyyah [88]: 2. “Wujuhuy yauma-iddin khaasyi'ah“ (Pada hari itu wajah-wajah mereka tunduk).“

Maka, jadikan sabar dan shalat sebagai sikap mengahadapi keadaan. Tetaplah berjalan menapaki jalan yang diridai-Nya. Karena, Allah akan menjanjikan taman-taman surga dengan sapaan cinta dari para Malaikat.

“.... Dan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. “ (QS ar-Ra'd [13]: 23-24).

Makna kesabaran yang berasal dari bahasa Arab “shabara“ bermakna menahan atau mengendalikan diri. Di dalam pribadi orang yang sabar terdapat kekuatan batin untuk menahan emosi (tadzammur), menjauhi amarah, dengki, dan dendam.

Dalam hati orang yang sabar tidak lagi terpikat pada hal-hal seperti itu. Karena di kamar hatinya telah penuh dengan cinta. Sabar membentuk kepribadian yang tangguh, lapang hati, dan berani (sa'adah dan saja'ah).

Kesabaran adalah hiasan dan salah satu ciri para mukminin. Rasulullah SAW bersabda “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya.
Dan, hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin. Yaitu, jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersa bar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.“ (HR Muslim dari Suhaib RA).

Sikap sabar melahirkan pribadi-pribadi yang tekun, tangguh, dan mampu menunda kenikmatan. Sabar bukanlah sikap fatalis, pasrah tanpa ikhtiar, atau putus asa. Sabar itu bagaikan seorang petani yang memelihara tanamannya dari segala hama yang akan merusak tanamannya.

Dengan memiliki kesabaran, ilmu, dan ikhtiar yang kuat para petani menuai hasil panennya secara berlimpah. Sungguh, kita membutuhkan orang-orang yang sabar. Wallahu a'lam.

sumber:
 

enno's world Template by Ipietoon Cute Blog Design